Ditulis Oleh: Munzir Almusawa
Sunday, 20 March 2011
Telaga Al Kautsar
Senin,07 Maret 2011

قَالَ رَسُوْلُ الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَيْنَمَا أَنَا أَسِيرُ فِي الْجَنَّةِ، إِذَا أَنَا بِنَهَر،ٍ حَافَتَاهُ، قِبَابُ الدُّرِّ الْمُجَوَّفِ، قُلْتُ: مَا هَذَا يَا جِبْرِيلُ…؟، قَالَ: هَذَا الْكَوْثَرُ، الَّذِي أَعْطَاكَ رَبُّكَ، فَإِذَا طِينُهُ مِسْكٌ أَذْفَرُ،

(صحيح البخاري)

Sabda Rasulullah saw : “Ketika aku berjalan di sorga, maka kulihat telaga indah, dikelilingi kubah-kubah mutiara yang berlorong-lorong, kukatakan : “apa ini wahai Jibril..?”, ia menjawab :”Ini telaga Al kautsar, yang diberikan untukmu dari Tuhanmu wahai Muhammad (saw). Maka kulihat pasirnya dari misik yang harum dan wangi” (Shahih Bukhari)

ImageAssalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Abadi, Maha Sempurna dan Tunggal dengan kesempurnaan, Tunggal dengan keluhuran , Tunggal dengan cahaya keabadian dan kebahagiaan, Yang menghamparkan alam semesta beserta isinya dari tiada kemudian membagikan kehidupan bagi yang dikehendaki-Nya, dan membuat hamba-hamba-Nya bicara, melihat, mendengar dan bergerak bagi yang dikehendaki-Nya. Tiada satu hamba pun yang mampu berbicara kecuali dengan anugerah-Nya, tiada pula seorang hamba bisa melihat kecuali dengan anugerah-Nya, tiada pula seorang hamba bisa mendengar kecuali dengan anugerah-Nya dan tiada pula seorang hamba bisa bergerak kecuali dengan anugerah-Nya. Tidak ada hamba yang mampu menciptakan penglihatan dari tiada, tiada pula seorang hamba yang mampu menciptakan pendengaran dari tiada , tiada seorang hamba mampu menciptakan tubuh bisa bergerak, dan jika berkehendak Allah mampu mencabut semua itu hingga berhentilah fungsi penglihatan, pendengaran dan gerakannya meskipun mata, telinga dan jasadnya ada, kesemuanya akan diam dan tidak mampu berfungsi dengan kehendak Allah, Yang Maha membatasi kehidupan dengan kehendak-Nya, Maha Lembut dan berkasih sayang khususnya kepada ummat sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Di masa-masa lalu ummat mencapai usia diatas 1000 tahun. Diriwayatkan bahwa nabi Nuh mencapai usia 2500 tahun dan mengemban risalah kenabian selama 950 tahun. Berapa banyak umat terdahulu yang mencapai usia ratusan atau ribuan tahun, ummat yang terpendek usianya adalah ummat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan sangat sedikit sekali yang mencapai usia 100 tahun, namun amal pahala mereka dilipatgandakan 10 hingga 700 kali lipat, itulah kelebihan ummat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka jika seseorang hidup selama 60 tahun seakan-akan ia seperti hidup 600 tahun, itulah anugerah Allah untuk kita ummat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Segala Puji bagi-Mu wahai Allah Yang telah memilih kami sebagai pengikut sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Meskipun kehidupan yang singkat di muka bumi ini namun Allah melipatgandakan pahala ummat menjadi 10 hingga 700 kali lipat, demikian riwayat Shahih Al Bukhari, bahkan dalam riwayat Shahih Muslim bahwa amal pahala bisa dilipatgandakan hingga 700 kali lipat atau lebih , maka jika 10 tahun usia kita dan kita beribadah selama itu maka ibadah selama 10 tahun itu bisa berubah menjadi 7000 tahun ibadah dengan kehendak Allah. Dan Allah juga memberi anugerah yang lebih baik dari itu yaitu malam Lailatul Qadr, dimana ibadah di malam itu pahalanya lebih dari 1000 bulan. Allah Maha Mampu memberi lebih dari semua itu, bahkan mereka yang telah memiliki tumpukan gunung dosa dan kesalahan, dan jika mereka bertobat Allah akan menggantikan kesalahan-kesalahan mereka dengan kebaikan, sebagaimana firman Allah :

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

( الفرقان : 70 )

“ Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ( QS. Al Furqan : 70 )

Orang yang beriman dan yang beramal shalih, Allah akan menggantikan tumpukan gunung-gunung dosa dan kesalahan mereka dengan gunung-gunung pahala. Tidak pernah kita temukan tumpukan dosa diganti menjadi pahala , yang kita tahu jika seseorang berbuat salah maka ia akan dimaafkan tanpa diberi hadiah, namun Allah tidak hanya memaafkan tetapi juga menggatikan dosa-dosa mereka dengan pahala, bahkan Allah memuliakan hamba-hamba yang bertobat . Diriwayatkan didalam Shahih Al Bukhari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa Allah subhanahu wata’ala menerima hamba yang bertobat dengan kegembiran dan cinta-Nya, Rasulullah bertanya kepada para sahabat tetang seseorang yang pergi membawa seluruh hartanya dengan tunggangannya dan setelah ia kelelahan ia pun tertidur dan ketika terbangun, tunggangan dan semua hartanya tidak ada, maka Rasulullah bertanya kepada para sahabat bagaimana kesedihan orang itu, maka para sahabat berkata : “pastilah orang itu sangat sedih wahai Rasulullah”, maka setelah orang itu berjalan jauh dan tidak pula menemukan tunggangannya ia pun kelelahan dan tertidur, setelah ia terbangun ia melihat harta dan tunggangannya ada di hadapannya, maka Rasulullah bertanya bagaimana kegembiraan orang itu, para sahabat menjawab : “pastilah dia sangat gembira wahai Rasulullah”, maka Rasulullah menjawab : “Sungguh Allah lebih gembira menerima taubat seseorang yang penuh dosa dibandingkan kegembiraan seseorang yang kehilangan seluruh hartanya kemudian hartanya kembali kepadanya”. Allah tidak membutuhkan taubat kita, namun samudera kasih sayang-Nya memeluk dan mencintai hamba yang bertobat, oleh sebab itu hamba yang paling dicintai oleh Allah subhanahu wata’ala adalah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dimana beliau selalu beristighfar sebanyak 70 kali dalam setiap harinya, padahal Rasulullah tidak mempunyai dosa, namun beliau hanya ingin lebih mencapai derajat yang mulia sebagaimana firman Allah :

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

( البقرة : 222 )

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” ( QS. Al Baqarah : 222 )

Jika muncul bisikan syaitan yang berkata: “jika engkau taubat dari sekarang, kemudian kembali berbuat dosa, maka engkau termasuk dalam kelompok orang-orang munafik”. Sungguh demi Allah tidak demikian, karena Allah tidak akan pernah berhenti dan bosan menerima tobat hamba-Nya. Allah berfirman dalam riwayat Al Imam Ahmad :

يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوْبُكَ عَنَانَ السَّماَءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ

“ Wahai anak Adam seandainya dosa-dosamu (sebanyak) awan di langit kemudian engkau minta ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni engkau”

Jika dosa seorang hamba memenuhi hingga ke ujung langit pun Allah tetap akan mengampuni, saat ini baru ditemukan galaksi terbaru, yang bernama galaksi Andren yang jaraknya 70 tahun kecepatan cahaya, dan kecepatan cahaya adalah 300.000 Km/detik namun belum juga ditemukan ujung langit,,, Allah berfirman jika dosa hamba menumpuk hingga memenuhi langit maka akan Allah ampuni. Adakah yang lebih indah dari Allah, adakah yang lebih pemaaf dari-Nya, adakah Yang lebih berhak dicintai dan dirindui dari diri-Nya, dan indahnya sambutan Allah terhadap hamba yang merindukan-Nya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda riwayat Shahih Al Bukhari:

مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ

“ Barangsiapa yang ingin berjumpa dengan Allah, maka Allah pun ingin berjumpa dengannya”

Jika seseorang rindu kepada Allah maka Allah pun rindu kepada-Nya, inginkah melihat Yang Maha Indah dan Maha Baik Yang menciptakanmu dari tiada, dan senantiasa memaafkan dosa-dosa dan kesalahanmu, dan Yang menyiapakan istana-istana di surga yang semakin detik bertambah indah, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

( السجدة : 17 )

“Tak seorangpun mengetahui berbagai ni’mat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan” ( QS. As Sajadah : 17 )

Manusia tidak mengetahui sesuatu yang telah disiapkan oleh Allah subhanahu wata’ala untuk mereka sebagai balasan amal-amal mereka. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam hadits qudsy :

أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِيْنَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

“ Telah Kusiapkan untuk hamba-hambaKu sesuatu yang tidak pernah dilihat mata, tidak pula didengar telinga, dan tidak pernah terlintas dalam sanubari manusia”

Abadi dalam keindahan di surga, dan keindahan itu dalam setiap waktu dan kejap semakin indah, itulah yang disiapakan untuk para perindu Allah, siapa mereka? Mereka adalah orang yang banyak megingat Allah,

مَنْ أَحَبَّ شَيْئًا كَثُرَ ذِكْرَهُ

” Barangsiapa yang mencintai sesuatu, maka banyak menyebutnya”

Maka beruntunglah mereka yang hadir di majelis dzikir , karena ia telah diizinkan Allah untuk duduk bersama orang-orang yang dirindukan dan merindukan Allah. Kebahagiaan, ketenangan, kesejahteraan, keluhuran, kesucian dan kemuliaan adalah milik-Nya yang diberikan kepada yang dikehendaki-Nya terlebih lagi kepada mereka yang memintanya. Dan rahasia keluhuran di malam hari ini, kita berkumpul dalam kemuliaan memenuhi undangan Allah untuk mencapai ridha-Nya, karena orang yang berdzkir bersama mengingat Allah maka Allah akan mengingatnya dalam perkumpulan yang lebih mulia di langit.

Langit mengenal nama-nama yang suka menyebut nama Allah . Semoga Allah mejadikan kita dalam kelompok mereka, kelompok orang yang banyak berdzikir . Orang yang banyak berzikir adalah orang-orang yang hatinya ditenangkan oleh Allah, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

( الرعد : 28 )

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” ( QS. Ar Ra’d : 28 )

Dengan mengingat Allah hati akan tenang, bagaimana hati akan tenang jika permasalahan dan kesedihan masih merundung kita, maka hal ini menunjukkan bahwa orang yang berdzikir akan tenang hatinya dan berarti akan diselesaikan permasalahannya. Perbanyaklah dzikir dalam segala aktifitas dan dimana pun berada, setiap kali ada kesempatan. Jika iseng untuk kirim sms dengan teman boleh-boleh saja di waktu senggang namun tetap sambungkan hati dengan Allah, sehingga hati bergetar mengingat-Nya . Dan ingatlah detik-detik saat namamu dipanggil menghadap-Nya “Fulan bin fulan maju kehadapan Allah”.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Sampailah kita pada hadits yang kita baca tadi dan mengingatkan pada firman Allah subhanahu wata’ala :

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ ، فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ ، إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

( الكوثر : 1-3 )

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni’mat yang banyak, maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah, sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus “ ( QS. Al Kautsar : 1-3 )

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “ saat aku berada di surga ( di malam mi’raj ) , aku melihat telaga yang sangat indah dikelilingi kubah-kubah mutiara yang berlorong-lorong dan tanahnya adalah minyak wangi yang terharum”, mungkin akal tidak menerima bagaimana tanahnya berupa minyak wangi?, sungguh tidak terlintas dalam fikiran kita karena pijakan kaki pastilah berupa tanah atau benda keras, namun disini pijakan kakinya adalah minyak wangi. Bisa tenggelam dong? tidak akan tenggelam, dengan kehendak Allah air. Diriwayatkan oleh Al Imam Ibn Hajar Asqalany dalam Fathul Bari bisyarah Shahih Al Bukhari, berkaitan dengan hal ini beliau menukil riwayat lain dari sayyidina Anas bin Malik beliau berkata : “ Wahai Rasulullah ,aku memohon syafaat kepadamu” , maka Rasulullah berkata : “ Engkau akan bertemu denganku di mizan”. Rasulullah menunggu ummatnya di timbangan amal untuk memberikan syafaat, jika timbangan dosanya lebih berat dari amalnya maka akan diringkan oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sayafaatnya . Kemudian sayyidina Anas bin Malik berkata : “ wahai Rasulullah, jika aku selamat di mizan lalu bermasalah di tempat yang selanjutnya?”, maka Rasulullah menjawab : “ Aku juga akan berada di jembatan shirat saat ummatku melintas”. Dalam sebuah riwayat yang tsiqah setiap ummat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam akan terjatuh ke jurang api neraka, rasulullah memegang tangannya, namun jika dia adalah pendosa besar yang belum sempat bertobat sebelum wafat, maka orang itu yang akan melepaskan tangan nabi sehingga ia pun terjerumus kea pi neraka. Maka sayyidina Anas bin Malik berkata : “ Wahai Rasulullah, jika aku mendapatkan kesulitan di alam selanjutnya maka dimana aku akan menemuimu?” Rasulullah menjawab : “aku berada di telaga haudh”, yang mana disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

أَنَا فَرَطُّكُم عَلَى الْحَوْضِ مَنْ وَرَدَ شَرِبَ مِنْهُ، وَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ لاَيَظْمَأُ بَعْدَهُ اَبَدًا

“Aku akan mendahuluimu datang di haudh siapa yang mendatanginya ia pasti akan minum darinya, dan siapa yang meneguknya ia tak akan haus selama-lamannya dan akan datang kepadaku beberapa kelompok yang sudah aku kenali mereka, lalu mereka dihalau dariku.”

Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang telaga Kautsar : “ Aku melihat cangkir-cangkir yang mengitari telaga Al Kautsar yang jumlahnya lebih banyak dari bintang di langit”. Kita mengetahui bahwa galaksi Bimasakti tempat bumi ini terdapat lebih dari 200 miliyar planet , dan galaksi itu jumlahnya mencapai milyaran, maka berapa jumlah cangkir yang mengitari telaga Al Kautsar milik sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam riwayat yang tsiqah disebutkan bahwa jika satu cangkir pecah, dan pecahan cangkir itu jatuh ke bumi maka pecahan itu jauh lebih indah dan lebih berharga dari segala perhiasan yang ada di bumi. Terdapat dua pendapat tentang riwayat ini, yang pertama mengatakan bahwa telaga Kautsar berada di dalam surge, dan ini adalah pendapat yang lebih kuat, dan pendapat yang kedua mengatakan telaga Kautsar berada di surga dan bersambung dengan telaga Haudh yang berada di luar surge. Maka Al Imam Ibn Hajar memadukan dua pendapat ini dan berkata bahwa telaga Haudh adalah telaga dari telaga Al Kautsar yang ada di dalam surga dan bersambung hingga sampai ke telaga Haudh. Jadi telaga Haudh posisinya di luar surga tetapi airnya bersambung hingga ke dalam surga yaitu telaga Al Kutsar. Sedangkan telaga Haudh masih berada di luar surga karena di saat itu ada orang yang terusir dari telaga Haudh sehingga ia dijauhkan dari telaga Haudh dan tidak boleh meminumnya dan dia berada dalam kehinaan, hal itu menunjukkan bahwa telaga Haudh bukan berada di dalam surga. Telaga Kautsar airnya mengalir hingga ke luar surga dan itulah yang disebut telaga Haudh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, sungguh indahnya Allah dalam memuliakan nabi Muhammmad shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga beliau bersabda :

مَا بَيْنَ بَيْتِي وَمِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ وَمِنْبَرِي عَلَى حَوْضِي

“Tempat antara mimbarku dan rumahku adalah satu taman dari taman-taman surga. Dan mimbarku berada di atas telagaku.”

Demikian indahnya Raudhah As Syarif di Masjid An Nabawy di samping makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Diantara makam beliau ( makam beliau ) dan mimbar lama beliau adalah taman dari taman-taman surga, mereka yang pernah berangkat Haji atau Umrah mengetahuinya. Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany menjelaskan bahwa yang beribadah di tempat itu ia akan mendapatkan syafaat rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan jika sampai ke taman surga maka berarti pula telah masuk ke surga Allah subhanahu wata’ala. Bagi yang belum mempunyai kesempatan untuk berkunjung ke Raudhah As Syarif, meskipun jasad kita jauh namun jadikan hati kita selalu ingin berada di tempat itu, semoga Allah subhanahu wata’ala memasukkan kita dalam kelompok orang-orang yang beribadah di Raudhah As Syarif, di Masjid Al Haram dan tempat-tempat luhur lainnya, amin. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah makhluk yang paling dicintai Allah subhanahu wata’ala, dan beliau adalah makhluk yang paling mulia budi pekertinya, yang paling ramah, yang paling banyak tersenyum, jika beliau diundang oleh orang yang miskin maka beliau terburu-buru untuk segera datang, beliau tidak mau mnegcewakan perasaan siapa pun bahkan hewan pun tidak mau beliau mengecewakannya, demikian indahnya nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Diriwayatkan dalam kitab Adab Al Mufrad oleh Al Imam Al Bukhari ketika Rasulullah berkunjung kepada salah satu rumah kaum Anshar, ketika itu ada seekor burung yang berputar-putar sambil berkicau di atas kepala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan para sahabat ingin menangkapnya karena dianggap telah mengganggu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Rasulullah berkata : “Siapa diantara kalian yang telah mengagetkan burung ini dengan mengambil telurnya?”, maka salah seorang sahabat berkata bahwa dia yang mengambil telur burung itu, maka Rasulullah memerintahkan untuk mengembalikannya. Tentunya seseorang diperbolehkan untuk mengambil telur seekor burung namun jika burung telah mengadu kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Rasulullah tidak akan mengecewakannya, sehingga telurnya pun kembali kepadanya, demikian indahnya budi pekerti sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah adalah manusia yang paling baik kepada semua makhluk, kepada manusia yang shalih, yang fasik, yang beriman dan yang tidak beriman, yang muslim atau yang non muslim, tidak ada orang yang lebih sopan dari sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Disebutkan dalam riwayat Shahih Al Bukhari bahwa datang seorang pemuda kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengadukan dosa-dosanya, dan berkata : “wahai Rasulullah , berilah aku hukuman atas dosa-dosa yang telah aku perbuat”, namun Rasulullah hanya diam kemudian turunlah firman Allah subhanahau wata’ala :

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ

( هود : 114 )

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” ( QS. Hud : 114 )

Jika seseorang merasa memiliki banyak dosa maka perbanyakalah amal pahala, karena pahala itu akan menghapus dosa-dosanya. Jangan meremehkan pengampunan Allah, ketahuilah bahwa Allah paling mudah mengampuni dari semua makhluk-Nya, paling mudah memaafkan dari semua yang memaafkan, namun jangan meremehkan tawaran maaf Allah, karena jika Allah membalik hati kita untuk tidak lagi memohon maaf kepada-Nya maka kekallah kita dalam kehinaan, wal ‘iyadzubillah.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Dalam kemuliaan wanginya majelis-majelis dzikir, disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam riwayat Shahih Al Bukhari bahwa perumpamaan orang yang duduk diantara orang-orang yang berdzikir dan berdoa bagaikan orang yang duduk dengan penjual minyak wangi, tidak membeli minyak wanginya namun ia mendapatkan aroma wanginya, sebaliknya orang yang duduk bersama orang yang sedang berbuat maksiat bagaikan orang yang duduk dengan seorang pandai besi yang sedang bekerja, dimana ia tidak menyentuh besinya, namun ia terkena percikan bara apinya. Maka duduk di mejelis seperti ini namanya akan diingat dan digemuruhkan oleh Allah subhanahu wata’ala ,duduk di majelis ini dilimpahi pengampunan oleh Allah subhanahu wata’ala, duduk di majelis ini mempercepat untuk mencapai tangga-tangga keluhuran dan meninggalkan dosa-dosa. Jika diantara kita masih ada yang belum mampu untuk menjalankan ajaran agama Islam dengan baik, masih sering meninggalkan shalat, masih belum mampu melakukan hal-hal yang diwajibkan dan meninggalakan hal-hal yang diharamkan, maka perbanyaklah doa kepada Yang Maha memberi kekuatan. Manusia adalah tempat kelemahan, tidak ada manusia yang tidak memiliki kesalahan, kecuali para nabi dan Rasul. Rasulullah adalah makhluk terindah dan panutan terindah yang diciptakan oleh Allah subhanahu wata’ala agar kita mencapai keindahan yang terindah yaitu keridhaan Allah subhanahu wata’ala dan memandang indahnya Allah subhanahu wata’ala. Ketika manusia berada di surga yang demikian indah dengan keindahan yang terus bertambah, Allah memanggil penduduk surga sebagaimana riwayat Shahih Al Bukhari :

يَا عِبَادِيْ أَلَا أُعْطِيْكُمْ أَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ ؟

“ Wahai hamba-hamba-Ku , maukah kalian Kuberi yang lebih baik dari itu ( surga yang megah dan indah) ? “

Maka hamba-hamba itu berkata :

ياَرَبِّ وَأَيُّ شَيْئٍ أَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ ؟

“ Wahai Allah , apalagi yang lebih baik dari itu ? “

Maka Allah menjawab :

أُحِلَّ عَلَيْكُمْ رِضْوَانِيْ فَلاَ أَسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أَبَدًا

“ Aku halalkan untuk kalian keridhaan-Ku dan Aku tidak akan murka kepada kalian selama-lamanya “

Keridhaan Allah ditawarkan di masa hidup kita, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam riwayat Al Imam Abu Daud bahwa siapa yang membaca :

رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا وَ بِالإسْلاَمِ دِيْنًا وَ بِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَ رَسُوْلاً

“Aku ridha Allah sebagai Tuhan, Aku ridha Islam sebagai agama dan Aku ridha Muhammad sebagai Nabi dan utusan (Allah)”

Maka pastilah dia mendapatakan keridhaan Allah subhanahu wata’ala, mungkin kita memandang hal itu terlalu jauh,sebenarnya tidak demikian, jika kita ucapkan dan kita niatkan maka kita akan mendapatkannya, hanya godaan syaitan yang selalu menghampiri kita, mungkin syaitan berbisik : “jika engkau ridha Allah sebagai Tuhanmu maka kau harus melakukan semua yang diperintahkan dan tidak ada yang ditinggalakan, jika tidak, maka jangan mengucapkan Aku ridha Allah menjadi tuhanku” . Bagaimana kita tidak ridha Allah menjadi Tuhan kita?! Jika kita tidak ridha jika Allah menjadi tuhan kita maka tentunya kita akan menyembah tuhan yang lain, namun jika kita menyembah Allah berarti kita ridha Allah menjadi Tuhan kita. Begitujuga jika kita tidak ridha kepada Islam sebagai agama kita maka tentunya kita akan keluar dari Islam , dan jika kita ridha kepada nabi Muhammad sebagai nabi kita maka kita akan memilih nabi lain, namun hal ini adalah tangga yang pertama, semakin dalam cintamu kepada Allah, Rasulullah dan kepada Islam, maka semakin tinggi keluhuranmu.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Saya tidak berpanjang lebar, sekalian mau pamit malam ini malam ini saya akan berangkat ke Dubai penerbangan jam 00.30 WIB untuk menghadap guru mulia Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh, kemudian menuju ke Kairo lalu ke Madinah Al Munawwarah selanjutnya ke Tarim Hadramaut, Insyaallah hari Sabtu atau Minggu sudah tiba di Jakarta. Dan selama saya tidak di Jakarta, Majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetap berjalan dan banyak guru-guru yang akan menggantikan saya untuk hadir di majelis-majelis ini, maka saya titipkan majelis ini kepada jamaah, jangan sampai seperti kejadian di zaman nabi Musa, dimana ketika nabi nya pergi pengikutnya kacau balau, maka saya harap tidak terjadi seperti itu. Selanjutnya kita berdoa bersama semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan keselamatan bagi yang akan berangkat safar untuk Umrah dank e Madinah kemudian perjumpaan dengan Al Allamah Al Arif billah Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh, dan yang disini semoga selalu dalam penjagaan Allah subhanahu wata’ala…

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله…يَا الله… ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم …لاَإلهَ إلَّاالله…لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ…لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ…لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ…مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ.

Selanjutnya qasidah Muhammadun kemudian doa penutup dan talqin oleh guru kita Al Habib Hud bin Muhammad Baqir Al Atthas, yatafaddhal Masykuraa.
Terakhir Diperbaharui ( Sunday, 20 March 2011 )

Advertisements

Munzir bin Fuad bin Abdurrahman bin Ali bin Abdurrahman bin Ali bin Aqil bin Ahmad bin Abdurrahman bin Umar bin Abdurrahman bin Sulaiman bin Yaasin bin Ahmad Almusawa bin Muhammad Muqallaf bin Ahmad bin Abubakar Assakran bin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi Alghayur bin Muhammad Faqihil Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Marbath bin Ali Khali’ Qasim bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Almuhajir bin Isa Arrumiy bin Muhammad Annaqibm Ali Al Uraidhiy bin Jakfar Asshadiq bin Muhammad Albaqir bin ALi Zainal Abidin bin Husein Dari Fathimah Azahra Putri Rasul saw.


Al-Habib ‘Umar bin Hafiz.

Beliau adalah al-Habib ‘Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafiz bin Abd Allah bin Abi Bakr bin ‘Aidarous bin al-Hussain bin as-Shaikh Abi Bakr bin Salim bin ‘Abd-Allah bin ‘Abd-al-Rahman bin ‘Abd-Allah bin al-Shaikh ‘Abd-al-Rahman Al-Saqqaf bin Muhammad Maula al-Daweela bin ‘Ali bin ‘Alawi bin al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad Sahib al-Mirbat bin ‘Ali Khali’ Qasam bin ‘Alawi bin Muhammad bin ‘Alawi bin ‘Ubaidillah bin al-Imam al-Muhajir ila Allah Ahmad bin ‘Isa bin Muhammad bin ‘Ali al-‘Uraidi bin Ja’far al-Sadiq bin Muhammad al-Baqir bin ‘Ali Zain al-‘Abidin bin Hussain putra ‘Ali bin Abi Thalib dan putra Fatimah binti Muhammad SAW, cucu Rasulullah Salla-Allahu ‘alaihi wa aalihi wasallam.


Bila SUBUH utuh, pagi tumbuh, hati teduh, pribadi tidak angkuh, keluarga tidak keruh maka damai berlabuh

Bila DHUHUR teratur, diri menjadi jujur, hati tidak kufur, rasa selalu bersyukur, amal tidak uzur, keluarga akur, maka pribadipun menjadi makmur

Bila ASAR kelar, jiwa menjadi sabar, raga tegar, senyum menyebar maka rizkipun lancar

Bila MAGRIB tertib, ngaji menjadi wajib, wirid jadi karib, jauh dari aib, maka syafaat tidak raib

Bila ISYA terjaga, malam menjadi bercahaya, gelap tak terasa Insyaalloh hidup damai ADIL & SEJAHTERA


Suatu ketika Rosulullah menawarkan sayembara kepada Ali bin Abi Thalib dengan Hadiah SORBAN Beliau jika Ali bin Abi Thalib mampu sholat sunnah 2 rakaat dengan khusyu’ tanpa mengingat apapun kecuali bacaan dan do’a sholatnya. Ali bin Abi Tholibpun menerima tawaran itu dan langsung melaksanakannya, setelah selesai sholat, Rosulullah bertanya “ Bagaimana ? “ , “ wah gak bisa ya Rosul, waktu sudah mendekati salam, saya ingat Sorban Rosul yang akan Anda berikan kepada saya “.

Suatu ketika Rosulullah memimpin sholat Jama’ah, lalu beliau mendengar ada tangisan bayi di belakangnya, maka Rosulullah mempercepat sholatnya. Demikian juga ketika beliau sholat sambil menggendong cucunya, anak kecil itu kadang digendong kadang juga diletakkan padahal beliau sedang sholat.

Khusyu’ dalam sholat bukan berarti TIDAK INGAT APA-APA kecuali bacaan sholat

Sahabat Sukses Rumah Yatim Indonesia yang senantiasa mentaati Allah SWT, sudah berapa lama kita melaksanakan Sholat ? tapi apa yang selama ini kita rasakan atau apa yang bisa kita nikmati dalam sholat kita ? rasanya biasa-biasa saja, belum ada yang istimewa, kelihatannya masih hambar, kadang-kadang bisa sedikit khusyu’ bahkan sekali-sekali bisa menangis ketika berjama’ah orang-orang pada nangis ya kita juga ikutan nangis atau hanyut dengan keindahan suara sang Imam.

Lalu pernahkah kita mengevaluasi sholat kita selama ini, adakah keinginan kita meningkatkan kualitas sholat kita ? ataukah kita biarkan menggelinding begitu saja, asal-asalan, asal sudah sholat dan gugur sudah kewajiban.

Sahabat inilah bagian terpenting bagaimana kita bisa merasakan Orgasme Spiritual.

“ Dan hendaklah kalian MEMOHON PERTOLONGAN dengan KESABARAN dan SHALAT. Karena sesungguhnya ia benar-benar berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.(Yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan MENEMUI RABB mereka dan bahwa mereka hanya akan kembali kepada-Nya”.( Al-Baqoroh : 45-46 )

Dalam ayat diatas Allah kasih 4 POIN YANG SALING TERKAIT untuk dapat menikmati sholat :

Yang pertama : Sholat kita akan terasa nikmat ketika kita MERASA BUTUH PERTOLONGAN ALLAH, mengapa kita butuh pertolongan Allah ? karena kita SELALU PUNYA MASALAH atau BEBAN, oleh karena itu bawalah masalah dalam sholat kita, semakin besar masalah atau beban kita semakin nikmatlah sholat kita, kita akan merintih, menangis, kulit dan badan kita mungkin akan gemetaran bahkan ingin menjerit rasanya. Hanya saja seringkali kita merasa tidak punya masalah yang membutuhkan solusi dari Allah SWT padahal masalah kita itu pasti selalu ada, masalah ekonomi, hubungan suami istri dan keluarga, anak-anak, pendidikan, masyarakat dan Negara, inilah penyebab mengapa kita kurang bisa menikmati sholat kita.

Oleh karena itu jika masalah atau beban kita sudah terlalu ringan, angkatlah beban sebesar-besarnya, buatlah mega proyek yang membuat kita akan tersungkur menagis dan menjerit dihadapan Allah yang Maha Perkasa. Maka ketika itu kita akan merasakan bagaimana ‘ Tangan Allah ‘ membantu mengangkat beban masalah bersama kita, dan rasakanlah kebahagiaan dan kenikmatan yang luar biasa ketika beban atau masalah yang berat itu terselesaikan.

Yang kedua : kita akan menikmati sholat dalam kondisi SABAR, tidak tergesa-gesa dan menghargai sebuah PROSES yang sedang berjalan. Dalam hal ini kita perlu memenej waktu sholat kita agar ‘ MEETING ‘ kita bersama Allah sangat Asyik dan tidak diburu oleh sebuah pekerjaan atau kepentingan lain. Disinilah Allah memberikan kebijakan dengan adanya Sholat Jama’ ( mengumpulkan 2 waktu sholat dalam satu waktu ) dan Sholat Qoshor ( meringkas Sholat yang 4 Rakaat menjadi 2 rakaat ), dari sinilah kita bisa memenej waktu sholat kita, ketika kita ada sebuah urusan yang sangat urgen yang bertepatan dengan waktu sholat tiba atau waktu sholat akan berkhir. Dengan memenej waktu sholat ini, maka ‘ Meeting kita Bersama Allah ‘ akan semakin nikmat dan leluasa berkomunikasi mencari solusi.

“ Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, ALLAH SELALU MENYERTAI ORANG-ORANG YANG SABAR “( Al-Baqoroh :153 ).

Yang ketiga : agar kita bisa serius menikmati sholat kita, kita harus YAKIN bahwa kita sedang melakukan MEETING dengan VERY VERY SPECIAL PATNER ( Robb=Tuhan ) yang benar-benar menawarkan berbagai macam mega proyek dan investasi sekaligus konsultasiNYA / pendampinganNYA, apanya yang gak enak ? kalau kita ditawari Mega Proyek terus dibantu investasinya dan dibantu juga konsultasinya 100% gratis dan hasilnya 100% buat kita, gendeng saja men kalau kita gak mau !

Mungkinkah ketika kita sedang meeting dengan orang yang akan memberi Peluang Mega Proyek, kemudian kita bilang “ Maaf ya pak, saya Cuma ada waktu 1 menit, gimana kalau to the point aja !”. kira-kira gimana jawaban kita kalau kita adalah Pihak yang akan memberi Peluang Mega Proyek tersebut ?, mungkin kira-kira begini jawaban kita “ eh dasar sontoloyo, emangnya gue yang butuh sama loe, 1 menit ? emangnya kuis apa ?! “.

Atau seorang Istri yang sudah dandan super cantik di kamar tidur yang indah, rapih dan wangi menunggu sang suami, namun ketika suami datang disambut istri dengan senyuman menuju kamar yang telah disiapkan, tiba-tiba sang suami bilang “ maaf ya sayang, aku cuma ada waktu 5 menit ada kerjaan yang harus selesai segera “, apa jawab istri kira-kira “ 5 menit ? enakan di loe gak enak di gue dong “.

Yang keempat : adalah SHOLAT itu sendiri harus kita mengerti dan kita pahami ATURAN MAINNYA, tahu bagaimana gerakannya yang benar, tahu jumlah rakaatnya, hafal dan memahami bacaan dan doa-doanya dan tahu juga segala aturan yang mendukungnya. Wah ini dia yang berat dan susah ! siapa bilang ? coba bandingkan berapa sudah lagu Indonesia, daerah dan asing yang sudah kita hafal dengan penuh penghayatan, apakah dengan menghayati lagu-lagu itu beban dan masalah kita bisa selesai begitu saja ?

Sekarang bukan zaman ‘Kolo Bendu’ atau ‘Sepur Klutuk’ ! kita belajar sholat gak harus nyantri bertahun-tahun, ada VCD Sholat dan Multimedia pembelajaran Sholat juga MP3 bacaan Sholat yang bisa kita mainkan lewat HP kita, tinggal kita serius mengalokasikan waktu untuk belajar Sholat dengan media tersebut, jika masih ada yang belum faham tinggal Tanya saja sama ustadz atau oaring terdekat kita yang lebih tau dan faham.
Yang keempat ini adalah salah satu SYARAT MUTLAK yang harus kita lakukan agar KUALITAS MEETING kita bisa NYAMBUNG dengan BAHASANYA ROBB kita

Sahabat, Ternyata Sholat itu MUDAH dan NIKMAT plus GAK PAKE MODAL, hasilnya LUAR BIASA DAHSYAT, masih gak mau sholat ? atau malas-malasan Sholat ? wah jadi TUHAN saja kita, selesai dah !


Berjubah dan bersurban putih, serta selempang hijau (radi), Habib Ali bin Husin Alatas, baik semasa tinggal di Cikini maupun Bungur menerima murid-muridnya atau masyarakat yang ingin menanyakan sesuatu hukum atau persoalan agama. Seperti diungkapkan Habib Ali bin Abdurahman Assegaff (62), dalam mengajar, almarhum biasanya berhadap-hadapan dengan para kiai atau ulama ternama yang datang ke kediamannya. Para ulama ini umumnya para pimpinan majelis taklim.

Misalnya KH Abdullah Syafiie, KH Tohir Rahili, KHM Syafi’i Hadzami, atau KH Nur Ali dari Bekasi, yang pada masa revolusi fisik (1945) menggerakkan rakyat melawan Belanda. Sejumlah ulama Betawi lainnya dari generasi yang lebih muda antaranya KH Abdurahman Nawi, pimpinan majelis taklim Al-Awwabin di Tebet (Jakarta Selatan), dan Depok (di kawasan Bintara dan Tugu-Sawangan). Tapi, menurut Habib Ali Assagaff, di antara ulama-ulama ternama juga banyak dari luar Jakarta. Bahkan dari Jawa Timur seperti Habib Husein Almachdor (Bondowoso), Habib Abdullah Bilfagih (Surabaya).

Di kediamannya itu, Habib Ali menerima mereka yang membacakan suatu kitab atau menanyakan suatu masalah kepadanya. Lalu almarhum menerangkan mengenai isi kitab tersebut. Habib Ali Assagaff yang pernah beberapa tahun berguru kepada almarhum membenarkan, umumnya yang belajar kepada beliau adalah para ulama dan kiai ternama. Tapi banyak yang ketika itu menjadi kader-kader ulama, kini telah berhasil menjadi ulama terkemuka.

Meskipun para murid yang belajar kepadanya tidak bersifat massal seperti di majelis-majelis taklim, tapi almarhum Habib Ali seringkali mendatangi diskusi dan pengajian antar-ulama dan kader-kader ulama. Jumlah mereka memang tidak banyak, hanya puluhan orang.

Seperti dikemukakan putranya Habib Husein, biasanya pengajian yang dihadiri lebih banyak muridnya diadakan secara rutin di majelis taklim Attahiriyah, pimpinan KH Tohir Rohili. Akan tetapi, sering pula pengajian semacam ini diadakan di kediaman atau pengajian KH Abdullah Syafi’ie (As-Syafiiyah), KHM Syafi’i Hadzami (Majelis Taklim Asyirotusy-Syafi’iyah) dan di majelis taklim Habib Abdurahman Assegaff, di Bukit Duri, Jakarta Timur.

Tidak seperti di majelis taklim Kwitang misalnya, dimana Habib Ali Alhabsji, mengajar di hadapan ribuan jamaah, Habib Ali Alatas hanya di kalangan terbatas. Seperti dikemukakan oleh KHM Syafi’i Hadzami, salah satu murid kesayangannya, cara mengajarnya ialah mendengarkan para murid-muridnya satu persatu membacakan kitab. Lalu beliau memberikan keterangan, dan dilanjutkan dengan tanya jawab. Baik di Cikini, maupun di Bogor, selama 56 tahun Habib Ali membuka semacam majelis talim khusus untuk para pimpinan dai dan mubaligh. Antara keduanya sampai akhir hayat terjalin hubungan yang sangat akrab, dan keduanya setiap saat sering bertemu. Dalam diskusi terbatas semacam ini, sejumlah kitab yang menjadi rujukan ulama salaf dibahas. Seperti kitab Minhajud Thalibin, kitab Hadis Bukhari-Muslim, hingga kepada kitab-kitab Ihya Ulumuddin-nya Imam Al-Ghazali.

Sejumlah ajengan dan mubaligh dari Bogor, Sukabumi, dan Cianjur, banyak yang mendatanginya. Almarhum juga teman akrab para ulama intelektual kala itu, seperti Buya KH Abdullah bin Nuh, Prof Dr Abubakar Atjeh, dan juga Hamka. Menurut Syafi’i Hadzami, salah seorang murid terdekat almarhum, dia telah menimba ilmu kepadanya selama 18 tahun.

Dari tahun 1958 hingga saat meninggalnya almarhum pada Pebruari 1976. Begitu cintanya ia kepada gurunya ini, sehingga ketika habib Ali pindah ke Bungur, KH Syafi’i dari Kebon Sirih ikut-ikutan pindah. Setelah Habib Ali meninggal dunia, kecintaannya terhadap gurunya ini tidak berkurang. ”Setiap kali saya melewati daerah makamnya di Cililitan, saya selalu membacakan Fatihah dan mendoakannya,” kenang Hadzami dalam buku Sumur yang tak Pernah Kering.

Ke Jakarta

Habib Ali bin Husin Alatas dilahirkan di Huraidhah, Hadramaut, pada tanggal 1 Muharram 1309 atau 1889 Masehi, juga dikenal dengan sebutan Habib Ali Bungur. Karena pada akhir hayatnya, ia dan keluarga tinggal di Bungur, Jakarta Pusat. Sebelumnya, guru sejumlah kiai Jakarta ini tinggal di Cikini, Jakarta Pusat. Hingga kala itu namanya dikenal dengan sebutan Habib Ali Cikini. Sejak usia enam tahun ia telah menuntut ilmu keislaman pada sebuah ma’had atau pesantren di Hadramaut. Setelah menempuh pendidikan belasan tahun, pada tahun 1912 dalam usia 23 tahun ia pun menunaikan ibadah haji. Di kota suci ini, Habib Ali menetap selama lima tahun yang waktunya dihabiskan untuk menuntut ilmu pada sejumlah ulama. Pada tahun 1917, ia kembali ke Huraidhah, dan mengajar di kota yang banyak memiliki pesantren itu.

Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 1920, dalam usia 41 tahun, ia pun berangkat ke Jakarta. Hanya dalam waktu singkat, almarhum yang selalu dekat dengan rakyat itu, telah dapat menguasai bahasa Indonesia. Ia mula-mula tinggal di Cikini, berdekatan dengan Masjid Cikini, yang dibangun oleh pelukis Raden Saleh. Ia dengan cepat dapat menarik perhatian masyarakat setempat.

Habib yang dikenal sebagai guru dari sejumlah ulama terkemuka di Betawi itu, pada masa hidupnya dikenal sebagai ulama ahli dalam bidang fikih, falsafah, tasawuf, dan perbandingan mazhab. Menguasai berbagai kitab kuning dari berbagai mazhab, Habib Ali Alatas, selama 56 tahun telah mengabdikan diri untuk perjuangan agama. Bukan saja di Indonesia, juga di Malaysia dan Singapura, banyak muridnya.

Seperti dikemukakan oleh putranya, yang kini meneruskan majelis taklim ‘Al-Khairat’ di Condet, ayahnya memang tidak mau menonjolkan diri. Padahal, di antara para muridnya merupakan ulama terkemuka kala itu. Seperti KH Abdullah Sjafi’ie, pimpinan majelis taklim Assyfi’iyah, KH Tohir Rohili, pimpinan majelis taklim Attahiriyah, KH Syafi’i Hadzami (ketua umum MUI Jakarta), dan puluhan ulama lainnya. Bahkan, para muridnya itu kemudian menjadi guru para mubaligh, dan perguruan tinggi Islam.

Menurut Habib Husein (62 tahun), ayahnya sangat gandrung kepada persatuan umat (ukhuwwah Islamiyah). Di samping sabar dan tidak mengenal lelah dalam melaksanakan dakwah. Selain di kediamannya, menurut putranya Habib Husein, ayahnya juga mengajar di berbagai tempat. Seperti pada setiap habis shalat Jumat, dia mengajar di Attahiriyah. Ulama yang ikut berguru, bukan hanya dari Jakarta, tapi juga dari Bogor, Cianjur, dan Sukabumi. Habib Husin sendiri di kediamannya di Condet, membuka pengajian untuk masyarakat setempat setiap Ahad malam yang dihadiri sekitar 300-400 jamaah.

Bersama rakyat jelata
Baik selama di Cikini, maupun di Bungur, almarhum menetap di lingkungan kampung bersama rakyat jelata. Seperti dikemukakan oleh salah satu muridnya, Habib Ali bin Abdurahaman Assegaff, salah satu pimpinan jamaah shubuh di Tebet, ”Setiap orang yang mengenal almarhum selalu akan berkata, hidupnya sederhana, dan tawadhu.” Setahu saya, kata Habib Ali Assegaff (60 tahun), ”Beliau tidak pernah menyakiti sesama manusia, teguh memegang prinsip, menolak pengultusan, berani membela kebenaran, luas dalam pemikiran.’

Yang perlu diikuti oleh para ulama masa kini, kata Habib Ali Assegaff, beliau tidak membeda-bedakan kaya dan miskin. Dalam mendekatkan diri dengan rakyat jelata ini, putranya menerangkan, almarhum ayahnya selalu naik becak atau kendaraan umum, karena sikapnya yang ingin berdiri dengan kaki sendiri. Melihat keadaan ini, sering di antara para muridnya yang memaksa beliau untuk menaiki mobilnya. Karena tidak tega melihatnya naik becak dalam usia lanjut.

Sampai akhir hayatnya, ia tidak memiliki mobil karena menerapkan hidup sederhana dan tidak pernah mau menadahkan tangan kepada orang kaya. Ketika berdakwah ke berbagai tempat ia lebih banyak naik becak. Hanya dalam waktu singkat, ia pun menjadi sumber ilmu dari para kiai dan ulama kala itu. Hingga kediamannya di Cikini, di sebuah gang kecil yang tidak dapat dimasuki mobil, selalu didatangi para muridnya yang ingin menambah ilmu. Pada tahun 1960′an, rumahnya di Cikini terbakar. Maka ia pun pindah ke Bungur, sebuah kampung di kawasan Senen, yang mayoritas penduduknya warga Betawi.

Di samping itu, Habib Ali pun dalam dakwah Islamnya banyak mendatangi berbagai tempat di Pulau Jawa. Seperti yang dikemukakan oleh KH Idham Chalid, yang juga pernah berguru padanya, almarhum dalam perjuangannya tidak pernah menonjol-nonjolkan diri bahwa ia seorang yang pandai. Ketua DPR/MPR KH Idham Chalid, yang juga ketua umum PBNU. Idham Chalid, kala itu mengatakan, almarhum berani mengoreksi para pemimpin. ”Saya sendiri sering dikoreksinya,” tegas Idham. Sedangkan Habib Ali Assegaff, salah satu muridnya sangat terkesan akan ketegasan gurunya itu. Sementara Idham Chalid mengaku, ”Saya seringkali ditegur karena kesalahan-kesalahan saya, dan almarhum memberi jalan keluar serta nasihat-nasihat.” Pernyataan ini dilontarkan Idham Chalid saat memberikan sambutan pada acara pemakaman almarhum di Cililitan, Jakarta Timur.

Bagi KHM Syafi’i Hadzami ada pengalaman tak terlupakan dengan gurunya itu. Suatu ketika ia menjenguk gurunya yang sedang sakit di kediamannya. Sebagai penghormatan dan adab pada guru, ia pun membuka sandalnya di luar kamar. Melihat muridnya demikian, ia pun menyuruh agar memakai sandalnya itu. Karena KHM Sjafi’i menolak, Habib Ali yang tengah sakit keluar dari kamarnya.

Ia mengambil sandal muridnya, dan minta agar memakainya. ”Saya terkejud dengan perlakuan guru saya yang demikian itu,” ujarnya. Selain Sjafi’i Hadzami, nama-nama besar lain yang pernah menimba ilmu darinya adalah Habib Muhammad Alhabsji (putra Habib Ali Kwitang), Habib Abdulkadir bin Abdullah Bilfagih (Malang), KH Abdullah Syafi’i, KH Tohir Rohili, KH Abdulrazag Ma’mun, Prof Dr H Abubakar Atjeh, KH Nur Ali (Bekasi), dan sejumlah ulama kondang lainnya. (as)

Almarhum meninggal dunia pada 16 Pebruari 1976 dalam usia 88 tahun.
Guru dari beberapa lembaga ilmiah, majelis taklim, dan perguruan agama ini, memang dikenal.

Sedikit tentang Almarhum

Habib Ali bin Husin Al-Attas lebih dikenal sebagai Habib Ali Cikini ini, karena almarhum lama sekali menetap di Cikini dikampung bersama-sama rakyat jelata. Setiap orang yang mengenal Habib Ali Cikini ini, pasti ia akan selalu berkata, hidupnya sederhana, tawadhu’, tidak pernah menyakiti sesama manusia, teguh memegang prinsip, menolak pengkultusan manusia, berani membela kebenaran, luas dalam pemikiran, mendalam dibidang ilmu pengetahuan, tidak membeda-bedakan kaya dan miskin, khushu ibadahnya, mendorong terbentuknya nasion Indonesia yang bersatu dan utuh serta homogeen, tidak segan-segan mengkoreksi pembesar dan selalu memberi petunjuk-petunjuk kepada yang dianggap perlu. Tepat ulassan Radio ‘Asy-Syafiiyah’ yang mengatakan: telah berpulanglah ke Rahmatullah seorang Ulama Besar, seorang Warasatul Anbiayang mempunyai sifat-sifat dan sikap ke-agungan.

Almarhum Habib Ali bin Husin Al-Attas semasa hidupnya tak pernah berhenti memberikan pengajaran kepada Muslimin. Berjubah dan serban serta selempang hijau (radi). Habib Ali Cikini selalu naik beca atau kendaraan umum, karena sikap beliau yang ingin berdiri diatas kaki sendiri. Sering diantara murid-muridnya memaksa beliau untuk menaiki mobilnya karena beca telah sukar dan melihat imir Habib tadi sudah lanjut. Haji Abu Bakar Aceh, anggota MPR, secara tepat menyatakan bahwa Almarhum Habib Ali bin Husin Al-Attas telah memanifescasikan sikap hidup keluarga Ahlel Bait, yakni menunjukkan sikap ke-rakyatan, tidak berlebihan dan dicintai Rakyat semuanya.

Memang setelah kami lihat rumah kediamannya di Bungur, Jakarta, melelehkan air mata saya. Saya melihat jenazah Almarhum sedang dibaringkan dibawah langit-langit (plafond) yang serba bocor. Perabot rumah tangga hanyalah bale-bale dan beberapa permadani yang tergelar untuk tamu para tamu. Seraya mendengarkan pengajian dan pembacaan Al-Qur’an, ribuan Rakyat satu persatu mendatangi Almarhum, membacakan Fatihah, Surat Yasin serta Tahlil. Saya memandang jenazah Almarhum, melihat keadaan sekelilingnya, melihat rumah kecil serta terbayangkanlah kebesaran ulama Islam ini, dimana beliau tidak tertarik pada tarikan-tarikan duniawi tidak terpengaruh oleh semaraknya kebendaan, tidak terseret arusnya kemegahan, karena beliau melanjutkan sikap Imam Ali bin Abi Thalib a.s yang meletakkan dunia ditangan dan bukan meletakkan dihati. Terbayang pada saya betapa hebatnya Habib Ali bin Husin yang tak pernah menadah tangannya pada orang-orang kaya harta, sebab Almarhum adalah kaya hati yang tak mau meletakkan tangannya dibawah, kecuali hanya pada mendoa pada Allah SWT.
Anti Penjajah

Penjajah adalah jahat, kafir dan wajib diperangi, demikian Habib Ali bin Husin Al-Athas selalu menganjurkan pada pengikutnya dalam menghadapi penjajahan Belanda.

Dalam memberikan ulasan-ulasan keagamaan, almarhum selalu mengobarkan semangat anti penjajah dn membawakan ayat-ayat Al-Quran serta hadits Nabi saw. Yang menganjurkan perang melawan penjajahan. Demikian pula seikap terhadap komunis Habib Ali selalu gigih. Disaat kuatnya PKI, beliau selalu bilang bahwa PKI dan Komunis akan lenyap dari bumi Indonesia dan rakyat selalu melawan kekuatan atheis. Ini berkah perjuangan para leluhur, ulama-ulama, dn par wali yang jasadnya bertebaran diseluruh Nusantara” demikian kata-kata almarhum selama hidupnya sebelum pra G30S/PKI. Maka tepatlah kata-kata ketua Organisasi Islam Internasional, KH. Ahmad Syaikhu pada pidato ta’ziah dikediaman almarhum pada tanggal 16 Februari 1972 beliau berkata :

“Habib Ali bin Husen Al-Athas selalu berada bersama-sama kita dan memberikan inspirasi disaat-saat kritis”

Kehilangan Pelita
KH. Dr. Idham Khalid secara resmi atas nama Rakyat Indonesia menyataka dukacita atas wafatnnya Habib Ali bin Husin Al-Athas. Ketua DPR/MPR itu berkata : “Meninggalnya Habib Ali bin Husen Al-Athas bagi umat islam merupakan kehilangan Pelita yang sanggup menerangi kepulauan Nusantara”. Kita telah kehilangan seorang yang besar dan yang berpengetahuan luas. Selama 56 tahun Habib Ali bin Husen tak pernah meninggalkan perjuangannya dan tak pernah menonjol-nonjolkan diri bahwa ia seorang yang pandai. Saya sering kali ditegur akan kesalahan-kesalahan saya dan almarhum memberi jalan keluar serta nasehat-nasehat. “Demikian sambutan ketua DPR/MPR yang mengharapkan agar para murid-murid dari almarhum Habib Ali bin Husin terus melanjutkan dan mengamalkan petunjuk-petunjuk almarhum.

Ulama Besar dari Jawa Timur, Habib Abdullah Bilfagih, menyatakan bahwa almarhum Habib Ali bin Husin adalah pemimipin rohani Islam yang sangat mempunyai wibawa kuat dan secara luas ditaati Muslimin, memperaktekkan azaz-azaz Islam. ,,Ulama Besar dari Mekah, Sayyid Hasan Fad’aq, menulis kepada saya, “demikian Habib Abdullah bilfagih”, dimana dinyatakan bahwa Habib Ali bin Husin Al-Athas adalah Qutub, besar pada zamannya, diseluruh Indonesia. Beliau selalu tekun membaca Al-Qur’an, berani menegur pembesar-pembesar yang mendatanginya dan selalu mengajarkannya agar jurang antara pemimpin rakyat dihilangkan, Rakyat mesti dicintai, dan inilah sebabnya maka Rakyat mencintai Habib Ali bin Husin Al-Athas.”

Ulama Besar Jawa Timur, Habib Muhdar Al-Muhdar, putra dari ulama besar almarhum Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdar dari Bondowoso, Jawa Tinur, yang mempunyai jutaan pengikut, terutama dikalangan Madura berkata:

“Meninggalnya almarhum Habib Ali bin Husin Al-Athas, adalah kehilangan besar bagi Indonesia. Perjuangan almarhum yang berlandaskan kerakyatan, kesederhanaan serta mempraktekkan norma-norma Islam dalam kehidupan sehari-hari selalu menjadi tauladan baik bagi ummat. Almarhum tak pernah muram apabila dihadapkan pada malapetaka, tetapi tawakkal pada Alah SWT. Uang, harta dan kekayaan tak pernah mengiurkan almarhum, itulah sebabnya, mengapa almarhum hidup dalam keadaan lebih daripada sederhana. Almarum disamping merupakan pimpinan rohani Islam adalah juga pemimpin dari jutaan Rakyat. Almarhum selalu menghibur dan menjadikan Rakyat optimis, karena Islam mengajarkan bahwa mahkluk yang paling dicintai Allah SWT, adalah dia yang dicintai Rakyatnya.”

Ulama besar Jawa Timur itu, Habib Muhdar Al-Muhdar selanjutnya menyatakan bahwa mempraktekkan petunjuk-petunjuk Habib Ali bin Husin almarhum adalah membebaskan Rakyat dari penderitaan, dengan Islam mengajak Ummat dari kegelapan pada cahaya nur yang terang dari taraf kemiskinan kepada taraf keadilan dan kemakmuran. Menambah Habib Muhdar Al-muhdar :

“ Habib Ali bin Husin benar-benar mempraktekan sikap seorang Muslim. Beliau sebagai pemimpin Islam hidup lebih dari sederhana atau setengah melarat, tetapi mengajurkan pengikutnya dan Rakyat hidup serba cukup.”

Ulama Muhammadiyah, H Abu bakar Aceh menambahkan:

“Apabila mencintai Habib Ali bin Husin, maka pengikutnya harus melanjutkan perjuangannya. Bagi saya, beliau adalah guru saya, kecintaan saya dan saya banyak sekali berhubungan dengan beliau.”

PERS

Tulis ,,,Antara” (16-2-1976) :

,,Almarhum Habib Ali bin Husin Al-Athas adalah guru dari beberapa lembaga Ilmiah, Majlis Ta’lim dan perguruan-perguruan Agama. Almarhum adalah ahli dalam bidang fiqih, falsafah, tassauuf, dan perbandingan mazhab. Selam hidupnya almarhum telah mengabdikandiri untuk perjuangan agama,bukan saja di Indonesia, tetapi juga di Malaysia dan Singapura. Murid-murid almarhum tersebar dinusantara, a.l. ketua DPR/MPR Dr. Idham Khalid. K.H. Abdullah Syafii, ketua dari perguruan tinggi “Asy-Syafiiyah”, KHS Muhammad Al-Habsy ketua dari Islamic Center Indonesia, K.H. Tohir Rohili ketua dari ,,Attahiriyah”.

Harian ,,Merdeka “pada tanggal 17 feb 1976 menulis :

,,Ulama Besar Indonesia telah berpulang ke Rahmatullah, Habib Ali bin Husin.”

Harian Pelita (18-2-1976) menulis :

,,Sejak senin yang lalu ummat Islam tercekam rasa duka dengan wafatnya seorang Ulama Besar, mahaguru kaum Muslimin Indonesia, Habib Ali bin Huasin Al-Athas.”

Almarhum Habib Ali bin Husin Al-Athas Ulama Besar Indonesia telah berpulang ke Rahmatullah. Beliau telah menunaikan mission-nya, tugasnya, telah mengamalkan dan mewakafkan dirinya untuk perjuangan Islam. Kini kita ditinggalkan, berkewajiban meneruskan perjuangan almarhum, meninggikan Syiar-syiar Islam, meluaskan pengetahuan Islam sebagaimana almarhum juga, sehingga dibidang fiqih almarhum menguasai fiqih-fiqih Syafii, Ja’fari, Maliki, Hanafi dan Hambali. Dengan memperdalam ilmu dan mempraktekan amal. Kita akan berbuat semuanya yang diridhai Allah SWT.

Ummat Islam Indonesia menaruh kepercayaan dan harapan agar cucu dari almarhum Habib Ali bin Husin, yaitu Habib Muhammad bin Husin bin Saleh meneruskan garis perjuangan almarhum. Bersama Ummat Islam Indonesia, maka dipercayakan kepada Habib Muhammad bin Husin Al-Athas tugas yang Mulia melanjutkan kepemimpinan, untuk meninggikan Syiar Islam, yang di-Ridhoi Allah SWT serta diberkahi Rasulullah SAW serta Ahlil-Bait-Nya (As)


Ratib Al Aththos

Ratib Al Aydrus

Bacaan  Tahlil

Bacaan Ziarah Kubur

Bacaan Talqin Mayyit